Tuesday, 21 July 2020

Paradigma Sosial Kognitif Dalam Pendidikan


1.      Paradigma Sosial Kognitif Dalam Pendidikan
Bredo (1997) mengembangkan paradigma ini dengan memanfaat kan psikologi fungsional dan filsafat pragmatisme dari karya James, Deway dan Mead. Ia juga mengaitka dengan nilai-nilai demokratik serta pemikiran behavioristik. Asumsi dasarnya dibangun berdasarkan prinsip bahwa individu selalu berdialog dengan lingkungannya.
Dalam paradigma social kognitif, pembelajaran disetting sedemian rupa sehingga siswa bisa menggunakan sistem pengetahuan yang dimlikinya dan digunakan untuk berdialog dengan lingkungan. Pembelajaran atau pemikiran dilakukan melalui tindakan yang bisa mengubah situasi. Situasi yang berubah mengubah cara pembelajaran yang dilakukan siswa. Gagasan yang terpenting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran adalah aktifitas yang difasilitasi yang didalamnya terdapat bentuk – bentuk ragam budaya yang ada menjadi faktor penting.
Dengan demikian pembelajaran dalam perspektif ini dapat diartikan sebagai aktifitas sosial dan kolaborasi. Didalamnya siswa mengembangkan pemikirannya bersama – sama. Kelompok kerja bukan soal pilihan tambahan. Pembelajaran dilakukan secara parsipatoris. Apa yang dipelajari bukan hanya yang dimiliki individu namun sesuatu yang bisa dibagikan dengan orang lain, dan oleh karena itu paradigma ini disebut dengan ‘distributed cognition’ pemikiran yang terbagikan.
Selebihnya, paradigma sosial kognitif dirinci dengan baik oleh Mclnerney dan Mclnerney sebagai berikut :
a.       Alat penyampaian materi
1)      Melakukan display model
2)      Berfokus pada siswa
b.      Aktivitas/metodologi
1)      Metode rinci, tahap demi tahap mengikuti model
2)      Penjelasan dan pemberian informasi verbal
3)      Bahan instruksional disusun secara teratur dan menarik
4)      Memberikan kesempatan siswa untuk memahami dan menyajikan kembali materi pembelajaran
c.       Motivasi dan tujuan
1)      Membuat instrumen reinforcement
2)      Menekan dorongan instrinsik maupun reinforcement
3)      Menguasai perilaku yang ditentukan dan mentransformasikannya dalam situasi baru
d.      Evaluasi
1)      Melakukan evaluasi formative secara terus menerus dan memberi respon terhadap umpan balik secara langsung
2)      Mereproduksi pendorong kepuasan yang diperlukan untuk membentuk perilaku
3)      Menggunakan skill yang diperlukan dalam situasi yang sama maupun yang baru melalui transformasi



Penerapan Teori Manajemen Klasik dalam Bimbingan dan Konseling

Penerapan Teori Manajemen Klasik dalam Bimbingan dan Konseling

Saat ini manajemen BK yang banyak dilaksanakan ialah program Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Dalam program bimbingan dan konseling komprehensif diklasifikasikan empat jenis layanan, yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsif, layanan perencanaan individual dan dukungan sistem. Dalam dukungan sistem dijelaskan mengenai kegiatan manajemen yang merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan: pengembangan program, pengembangan staf, pemanfaatan sumber daya, dan pengembangan penataan kebijaksanaan.

Beberapa hal di atas ada yang sejalan dengan konsep manajemen klasik, misalkan dalam pengembangan staf. Dalam manajemen klasik diterapkan teknik efisiensi dan penelitian waktu dan gerak (time and motion study) yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas tenaga kerja serta diterapkannya pula metode pemilikan dan pengembangan tenaga kerja yang menunjukkan pentingnya latihan dan pendidikan untuk meningkatkan efektivitas kerja dan diterapkannya pemilihan orang yang tepat untuk melakukan pekerjaan tertentu. Berkenaan dengan hal tersebut, dari sini dapat terlihat bahwa dalam konsep manajemen klasik sangat memperhatikan pengembangan staf, apalagi pelaksana program bimbingan konselor haruslah profesional terhadap bidangnya karena kegiatan bimbingan dan konseling hanya dapat dilakukan oleh orang yang profesional agar terhindar dari mall praktek.

Selanjutnya dalam teori birokrasi manajemen klasik juga diterapkan pembagian kerja yang jelas, dan dalam pelaksanaan program BK pun dilakukan pembagian kerja yang jelas dari kepala sekolah sebagai manajer dalam manajemen sekolah kepada seluruh personel sekolah agar semua mampu terlibat secara tepat dalam mendukung terlaksananya program bimbingan dan konseling yang disusun oleh guru BK atau konselor. Dari dua hal yang coba dikemukakan di atas sudah cukup menjelaskan bahwa manajemen klasik dalam hal tertentu masih tepat digunakan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.

 Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1.      Secara umum manajemen adalah sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan  untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2.      Manajemen klasik lebih merupakan suatu teori manajemen yang mengedepankan produktivitas suatu organisasi atau perusahaan dengan adanya peningkatan kualitas pekerja/ karyawan dengan diberi pekerjaan yang spesifik dan dituntut tanggungjawab untuk menyelesaikannya pada waktu yang telah ditentukan yang disertai pendidikan dan latihan yang memadai demi meningkatkan efektivitas kerja serta adanya upaya mencari alternatif metode terbaik untuk lebih mengefisienkan waktu pengerjaan suatu pekerjaan.

3.      Konsep manajemen klasik dalam bimbingan konseling sangat memperhatikan pengembangan staf, apalagi pelaksana program bimbingan konselor haruslah profesional terhadap bidangnya karena kegiatan bimbingan dan konseling hanya dapat dilakukan oleh orang yang profesional agar terhindar dari mall praktek.

DAFTAR PUSTAKA

 

Fatah, Nanang. 2008. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 Siswanto, H.B. 2007. Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

 Sugiyo. 2014. Manajemen Bimbingan dan  Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya.

 Syamsu Yusuf, LN dan A. Juntika Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Kerjasama PPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya.

Suherman, Uman. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Mandani Production.


Analisis Teori Manajemen Klasik

Analisis Teori Manajemen Klasik

Suatu teori akan selalu penting dan senantiasa tepat untuk dipelajari jika teori tersebut terus mengalami perkembangan sesuai perubahan jaman agar teori selalu tepat diterapkan kapan saja. Ada banyak teori yang berkembang dalam ilmu pengetahuan dunia saat ini termasuk teori tentang manajemen. Banyak ahli manajemen yang menuliskan tentang teori manajemen dengan beragam pandangan atau persepsinya masing-masing yang tentu didasari oleh proses pengkajian yang mendalam. Sehingga tidak jarang ditemui cukup banyak perbedaan dalam pembahasan suatu teori manajemen.

Mengenai teori manajemen secara umum, ada banyak pengembangan dari teori manajemen yang dituliskan secara berbeda dari beragam referensi, pada suatu referensi disebutkan bahwa terdapat tiga aliran pemikiran manajemen, yaitu:

1.    Aliran klasik yang terbagi dalam manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik. (ada referensi lain pula yang menyebutkan teori organisasi klasik terbagi menjadi teori birokrasi dan teori administrasi).

2.    Aliran hubungan manusiawi, disebut sebagai aliran neoklasik atau pasca klasik.

3.    Aliran manajemen modern.

 

Ada pula referensi lain yang menyebutkan secara garis besar konsep manajemen dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok, yaitu:

1.    Konsep Manajemen Klasik

2.    Konsep Manajemen Behavioristik

3.    Konsep Manajemen Systems Model

4.    Konsep Manajemen Networking

 

Selanjutnya terdapat referensi lain pula yang menyebutkan bahwa Konsep dasar manajemen sendiri mengalami perkembangan sepanjang sejarah yang tidak terlepas dari para ahli manajemen.  Secara umum perkembangan teori manajemen dapat dibagi menjadi 4, yaitu :

1.    Manajemen ilmiah (1870 – 1930)

2.    Manajemen klasik (1900 – 1940)

3.    Manajemen hubungan manusiawi (1930 – 1940)

4.    Manajemen modern (1940 – sekarang)

 

Sehingga untuk membahas mengenai manajemen klasik itu sendiri perlu dibuat bahasan apakah manajemen klasik dibahas sebagai suatu konsep atau aliran ataukah teori organisasi, karena ketika membahasnya sebagai suatu aliran maka seperti yang dikemukakan diatas bahwa manajemen aliran klasik terbagi dalam manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik, sehingga dapat dikatakan bahwa manajemen ilmiah merupakan bagian dari manajemen klasik. Sedangkan jika dibahas sebagai suatu teori maka dapat dilihat pada pemaparan di atas bahwa manajemen ilmiah berbeda atau terpisah dari manajemen klasik.

Selain terdapat perbedaan dari segi bahasan apakah manajemen klasik dipandang sebagai suatu aliran ataukah konsep/ teori, terdapat pula perbedaan dari segi tokoh yang menjadi pelopor manajemen ilmiah. Namun dibalik segala perbedaan yang ada, tetap terdapat suatu titik temu atau pokok teori manajemen klasik yang dalam hal ini dapat dilihat pada pemaparan karakteristik, kelebihan dan kelemahan teori manajemen klasik. Bagaimanapun, pembahasan suatu teori akan tepat sasaran jika difokuskan pembahasannya pada suatu aspek atau sudut pandang tertentu.

Inti dari teori manajemen klasik ialah lebih merupakan suatu teori manajemen yang mengedepankan produktivitas suatu organisasi atau perusahaan dengan adanya peningkatan kualitas pekerja/ karyawan dengan diberi pekerjaan yang spesifik dan dituntut tanggungjawab untuk menyelesaikannya pada waktu yang telah ditentukan yang disertai pendidikan dan latihan yang memadai demi meningkatkan efektivitas kerja serta adanya upaya mencari alternatif metode terbaik untuk lebih mengefisienkan waktu pengerjaan suatu pekerjaan. Sudah tentu ketika terfokuskannya seseorang pada suatu pencapaian tujuan tertentu, maka tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada saja aspek lain yang kurang diperhatikan, begitu pula dengan teori manajemen klasik tersebut sehingga teori ini pun tidak luput dari kekurangan atau keterbatasan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Fatah, Nanang. 2008. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Siswanto, H.B. 2007. Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Sugiyo. 2014. Manajemen Bimbingan dan  Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya.

 

Syamsu Yusuf, LN dan A. Juntika Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Kerjasama PPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya.

Suherman, Uman. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Mandani Production.

 

Mulyono, MA. 2009. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 


Kelebihan dan Kekurangan Teori Manajemen Klasik

 Kelebihan dan Kekurangan Teori Manajemen Klasik

1.      Kelebihan Teori Manajemen Klasik

Dalam manajemen klasik metode ilmiah dapat diterapkan pada bermacam-macam kegiatan organisasi, jadi bukan hanya pada organisasi industri. Berikut beberapa kelebihan dari manajemen klasik.

a.    Teknik efisiensi dan penelitian waktu dan gerak (time and motion study) mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas tenaga kerja.

b.    Metode pemilikan dan pengembangan tenaga kerja menunjukkan pentingnya latihan dan pendidikan untuk meningkatkan efektivitas kerja.

c.    Metode ini juga mampu memberikan rancangan kerja dan mendorong manajer untuk mencari alternatif terbaik dalam melaksanakan suatu pekerjaan.

d.   Manajemen klasik menyediakan banyak teknik dan pendekatan terhadap manajemen yang masih relevan saat ini sebagai contoh pemahaman secara menyeluruh mengenai sifat dari pekerjaan yang dilaksanakan, pemilihan orang yang tepat untuk melakukan pekerjaan tersebut, dan melakukan pendekatan keputusan secara rasional semuanya adalah ide yang berguna dan masing-masing dikembangkan selama periode ini.

e.    Beberapa konsep inti dari model birokratif masih dapat digunakan di dalam rancangan organisasi modern selama keterbatasan mereka diakui. Manajer seharusnya mengakui bahwa efisiensi dan produktivitas dapat diukur dan dikendalikan dalam banyak situasi.

 

2.      Kekurangan Teori Manajemen Klasik

Selain memiliki kelebihan, manajemen klasik juga diakui memiliki beberapa keterbatasan, adapun keterbatasan tersebut diantaranya ialah sebagai berikut:

a.    Manajemen klasik kurang memperhatikan aspek kemanusiaan dari pekerja, seperti motif, tujuan, perilaku, dan lain sebagainya.

b.    Dalam organisasi modern yang kompleks seperti sekarang, manajemen klasik dianggap terlalu umum.  Di manajemen modern, terkadang garis wewenang agak kabur. Saat ini terkadang teknisi bisa mendapat perintah dari manajer pabrik (atasan dari atasan teknisi (mandor).  Ini membuat pertentangan antara prinsip pembagian kerja dan kesatuan perintah.

c.    Peningkatan produktivitas memungkinkan peningkatan hasil, tetapi sering mengakibatkan pemberhentian pekerja atau diubahnya upah. 

d.   Teori ini kurang melihat kebutuhan sosial para pekerja dan tidak pernah melihat ketegangan-ketegangan yang terjadi karena kebutuhan itu tidak terpenuhi. Hal ini terjadi karena manajer yang mengikuti aliran ini hanya memperhatikan aspek material dan fisik.

e.    Manajer juga harus mengakui keterbatasan dari perspektif klasik dan menghindari fokus sempitnya terhadap efisiensi dari perspektif penting lainnya. Kekurangan dari manajemen klasik ialah prespektif tersebut menganggap remeh peran individu dalam organisasi.

 

Sedangkan menurut Filley, Kerr dan Hous (1976) dalam Nanang Fatah (2008:24) kelemahan-kelemahan teori klasik secara garis besar dikemukakan sebagai berikut:

1.      Teori klasik adalah teori yang terikat waktu. Teori ini cocok diterapkan pada permulaan abad dua puluhan, karena motif pekerja waktu itu yang terutama ialah memenuhi kebutuhan fisiologis.

2.      Teori klasik mempunyai ciri-ciri deterministik. Teori sangat menekankan pada prinsip-prinsip manajemen dan tidak memperhitungkan berbagai dimensi dalam manajemen seperti motivasi, pengambilan keputusan, dan hubungan informal.

3.      Teori ini merumuskan asumsinya secara eksplisit. Malahan banyak asumsi yang lemah dan tidak lengkap secara implisit terdapat dalam teori klasik itu, antara lain: efisiensi hanya diukur oleh tingkat produktivitas yang hanya menyangkut penggunaan sumber secara ekonomis tanpa memperhitungkan faktor manusiawi.


DAFTAR PUSTAKA

 

Fatah, Nanang. 2008. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Siswanto, H.B. 2007. Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Sugiyo. 2014. Manajemen Bimbingan dan  Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya.

 

Syamsu Yusuf, LN dan A. Juntika Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Kerjasama PPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya.

Suherman, Uman. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Mandani Production.

 

Mulyono, MA. 2009. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

 

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_manajemen_umum/Bab_2.pdf diakses pada tanggal 17 September 2015.


Manajemen Klasik

Manajemen Klasik

1.      Pengertian Manajemen

Kata manajemen merupakan terjemahan dari bahasa inggris “to manage” yang berarti mengelola. Kata mengelola mempunyai makna yang luas seperti mengatur, mengarahkan, mengendalikan, menangani, dan melaksanakan serta memimpin (Sugiyo, 2013:27)

Menurut Hersey dan Blanchard (2001:3) (dalam Sugiyo, 2013:27) mengemukakan manajemen sebagai “management is working with and throught individuals and growth to accomplish organizational goals” sedangkan stoner (1992:8) mengemukakan bahwa manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengguanaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Dalam Uman Suherman (2007:35) manajemen diartikan sebagai proses mengadakan, mengatur, dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang dianggap penting guna mencapai suatu tujuan. Lebih jauh manajemen merupakan keseluruhan proses aktivitas yang dilakukan oleh sekolompok manusia dalam suatu system organisasi dengan menggunakan segala sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

 

2.      Pengertian Manajemen Klasik

Teori Manajemen Aliran Klasik mendefinisikan manajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemennya. Perhatian dan kemampuan manajer sangat dibutuhkan pada penerapan fungsi-fungsi tersebut. Teori manajemen klasik beranggapan bahwa manusia itu sifatnya rasional, berfikir logis, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Oleh karena itu teori klasik berangkat dari premis bahwa organisasi bekerja dalam proses yang logis dan rasional dengan pendekatan ilmiah dan berlangsung menurut struktural atau anatomi organisasi.

 

3.      Sejarah Perkembangan Manajemen Klasik

Teori Manajemen Aliran Klasik awal sekali timbul akibat terjadinya revolusi industri di Inggris pada abad 18. Para pemikir tersebut memberikan perhatian terhadap masalah-masalah manajemen yang timbul baik itu dikalangan usahawan, industri maupun masyarakat. Para pemikir itu yang terkenal antara lain, Robert Owen, Henry Fayol, Charles Babbage dan lainnya.

Adapun manajemen klasik timbul dari kebutuhan akan pedoman untuk mengelola organisasi yang kompleks, misalnya sebuah pabrik. Manajemen itu tidak dilahirkan, tetapi dapat diajarkan, asalkan prinsip-prinsip mendasari dan teori umum manajemen dapat diterapkan.

Ada dua tokoh manajemen yang mengawali munculnya manajemen, yaitu :

a.    Robert Owen (1771-1858)

Dimulai pada awal tahun 1800-an sebagai Manajer Pabrik Pemintalan Kapas di New Lanark, Skotlandia. Robert Owen mencurahkan perhatiannya pada penggunaan faktor produksi mesin dan faktor produksi tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya disimpulkan bahwa, bilamana terhadap mesin diadakan suatu perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan, demikian pula halnya pada tenaga kerja, apabila tenaga kerja dipelihara dan dirawat (dalam arti adanya perhatian baik kompensasi, kesehatan, tunjangan dan lain sebagainya) oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan kepada perusahaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan. Atas hasil penelitiannya Robert Owen dikenal sebagai Bapak Manajemen Personalia.

 

b.    Charles Babbage (1792-1871)

Charles Babbage adalah seorang Profesor Matematika dari Inggris yang menaruh perhatian dan minat pada bidang manajemen. Dia percaya bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikkan produktivitas dari tenaga kerja dan menurunkan biaya, karena setiap pekerjaan dilakukan secara efektif dan efisien. Dia menganjurkan agar para manajer saling bertukar pengalaman dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen.

Pembagian kerja (devision of labour), mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :

1.    Mengefisienkan waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru.

2.    Banyaknya waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain serta akan menghambat kemajuan dan ketrampilan pekerja, untuk itu diperlukan spesialisasi dalam pekerjaannya.

3.    Kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seorang pekerja bekerja terus-menerus dalam tugasnya.

4.    Adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada hal itu-itu saja.

Kontribusi lain dari Charles Babbage yaitu mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan antara para pekerja dengan pemilik perusahaan, juga membuat skema perencanaan pembagian keuntungan.

 

 

 

 

4.      Pokok Teori Manajemen Klasik

Teori Manajemen Aliran Klasik terbagi menjadi dua, yaitu teori manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik.

a.    Teori Manajemen Ilmiah 

Pelopornya adalah Frederick Winslow Taylor, Frank dan Lilian Gilberth, serta Henry Laurance Grant . Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan dibahas, pada sekitar 1900 an. Frederick Winslow Taylor adalah manajer dan penasihat perusahaan dan merupakan salah seorang tokoh terbesar manajemen. Taylor dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah (scientifick management).

.  Taylor menyusun sekumpulan prinsip yang merupakan inti manajemen ilmiah.  Prinsip-prinsip itu diringkas sebagai berikut :

1.    Menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan disetiap unsur-unsur kegiatan.

2.    Memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.

3.    Setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan di dalam menjalankan tugasnya.

4.    Harus dijalin kerjasama yang baik antara pimpinan dan pekerja.

Pendukung teori manajemen ilmiah yang lain adalah Frank dan Lilian Gilberth yang merupakan pelopor studi gerak dan waktu. Dia tertarik pada pengerjaan suatu pekerjaan yang memperoleh efisiensi tertinggi.sebagai ilmu yang menganalisis tugas sampai pada gerak fisik dasar.  Diharapkan agar gerak tidak dihambur-hamburkan dan dihemat serta diharapkan lancar  sehingga produktifitas kerja meningkat.  Dalam konsep Gilbreth, gerakan dan kelelahan saling berkaitan.  Dengan kamera film ia berusaha mencari gerakan paling menghemat untuk setiap pekerjaan, dengan demikian menaikkan prestasi dan mengurangi kelelahan.

Pelopor manajemen ilmiah selanjutnya ialah Henry Laurance Gantt. Beliau merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan, dimana titik perhatiannya pada unsur manusia dalam menaikkan produktivitas kerjanya. Adapun gagasan yang dicetuskannya yaitu :

1.      Kerja sama yang saling menguntungkan antara manajer dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan bersama.

2.      Mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.

3.      Pembayar upah pegawai dengan menggunakan sistem bonus.

4.      Penggunaan instruksi kerja yang terperinci.

 

b.   Teori Organisasi Klasik

Konsep-konsep tentang organisasi telah berkembang mulai tahun 1800-an, dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori klasik (classical theory) atau kadang-kadang disebut juga teori tradisional. Organisasi secara umum digambarkan oleh para teoritisi klasik sebagai sangat tersentralisasi, dan tugas-tugasnya terspesialisasi. Para teoritisi klasik menekankan pentingnya “rantai perintah” dan penggunaan disiplin, aturan dan supervisi ketat untuk mengubah organisasi-organisasi agar beroperasi lebih efisien. Teori klasik sendiri terbagi atas teori birokrasi dan teori administrasi, bahkan ada pula yang menganggap teori Manajemen ilmiah juga merupakan bagian dari teori organisasi klasik.

Teori organisasi klasik yang pertama ialah teori birokrasi yang  dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya : The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Kata birokrasi mula-mula berasal dari kata legal-rasional. Organisasi disebut rasional dalam hal penetapan tujuan dan perencanaan organisasi untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Weber bentuk organisasi yang birokratik secara kodratnya adalah bentuk organisasi yang paling efisien.

 

Weber mengemukakan karakteristik birokrasi sebagai berikut :

1.      Pembagian kerja yang jelas.

2.      Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik.

3.      Program rasional dalam pencapaian tujuan organisasi.

4.      Sistem prosedur bagi penanganan situasi kerja.

5.      Sistem aturan yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban posisi para pemegang jabatan.

6.      Hubungan-hubungan antar pribadi yang bersifat “impersonal”.

 

Jadi, birokrasi adalah sebuah model organisasi normatif, yang menekankan struktur dalam organisasi. Unsur-unsur birokrasi masih banyak ditemukan di organisasi-organisasi modern yang lebih kompleks daripada hubungan “face-to-face” yang sederhana.

Teori organisasi klasik yang kedua ialah teori administrasi. Teori administrasi berkembang sejak tahun 1990. Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasar sumbangan Henry Fayol dan Lynlali Urwick dari Eropa, serta Mooney dan Reiley di Amerika.

Mooney dan Reilly menyebut Koordinasi sebagai faktor terpenting dalam perencanaan organisasi maupun bangun teori yang mereka kemukakan. Mereka menekankan tiga prinsip organisasi yang mereka teliti dan temukan telah dijalankan dalam organisasi-organisasi pemerintahan, agama, militer dan bisnis. Ketiga prinsip tersebut adalah : 1) Prinsip koordinasi (kerja sama), 2) Prinsip skalar (pendelegasian wewenang dan tanggungjawab), dan 3) Prinsip fungsional (pembagian kerja).

          Tokoh selanjutnya ialah Henry Fayol (1841-1925). Menurut Fayol (Robbins dan Coulter, 1999), manajemen adalah sebuah kegiatan umum dari semua usaha manusia dalam bisnis, pemerintahan, dan rumah tangga.

Pada tahun 1916, dengan sebutan teori manajemen klasik yang sangat memperhatikan produktivitas pabrik dan pekerja, disamping memperhatikan manajemen bagi satu organisasi yang kompleks, sehingga beliau menampilkan satu metode ajaran manajemen yang lebih utuh dalam bentuk cetak biru. Fayol memerinci fungsi-fungsi kegiatan administrasi menjadi elemen-elemen manajemen, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian, dan pengawasan. Pembagian kegiatan-kegiatan administrasi atas fungsi-fungsi ini dikenal sebagai Fayol’s Functionalism atau teori Fungsionalisme Fayol.

Fayol berkeyakinan keberhasilan para manajer tidak hanya ditentukan oleh mutu pribadinya, tetapi karena adanya penggunaan metode manajemen yang tepat. Sumbangan terbesar dari Fayol berupa pandangannya tentang manajemen yang bukanlah semata kecerdasan pribadi, tetapi lebih merupakan satu keterampilan yang dapat diajarkan dan dapat dipahami prinsip-prinsip pokok serta teori umumnya sebagaimana yang telah dirumuskan. Fayol membagi kegiatan dan operasi perusahaan ke dalam beberapa macam kegiatan :

1.      Teknis (produksi) yaitu berusaha menghasilkan dan membuat barang-barang produksi.

2.      Dagang (Beli, Jual, Pertukaran) dengan cara mengadakan pembelian bahan mentah dan menjual hasil produksi.

3.      Keuangan (pencarian dan penggunaan optimum atas modal) berusaha mendapatkan dan menggunakan modal.

4.      Keamanan (perlindungan harga milik dan manusia) berupa melindungi pekerja dan barang-barang kekayaan perusahaan.

5.      Akuntansi dengan adanya pencatatan dan pembukuan biaya, utang, keuntungan dan neraca, serta berbagai data statistik.

Pada referensi lain ada yang menuliskan satu tambahan kegiatan selain lima kegiatan diatas, yaitu kegiatan Manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pemberi perintah dan pengawasan).

Selanjutnya Fayol juga mengungkapkan ada 14 prinsip manajemen yang merupakan kebenaran universal yang merupakan prinsip umum manajemen, yaitu :

1.      Pembagian Kerja – yaitu adanya spesialisasi akan meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja.

2.      Wewenang/ Otoritas – yaitu adanya hak untuk memberi perintah dan dipatuhi.

3.      Disiplin/ Tata Tertib – harus ada respek dan ketaatan pada peranan-peranan dan tujuan organisasi.

4.      Kesatuan Perintah/ Komando – bahwa setiap pekerja hanya menerima instruksi tentang kegiatan tertentu hanya dari seorang atasan.

5.      Kesatuan Pengarahan – kegiatan operasional dalam organisasi yang memiliki tujuan yang sama harus diarahkan oleh seorang manajer dengan penggunaan satu rencana.

6.      Meletakkan kepentingan perseorangan di bawah kepentingan umum – kepentingan perseorangan harus diupayakan agar senantiasa di bawah kepentingan organisasi. Artinya prioritas harus didahulukan untuk kepentingan bersama daripada untuk kepentingan pribadi.

7.      Balas jasa – kompensasi untuk pekerjaan yang dilaksanakan harus adil baik bagi karyawan maupun pemilik.

8.      Sentralisasi – adanya keseimbangan antara pendekatan sentralisasi dengan desentralisasi.

9.      Garis wewenang (scalar system)/ rantai skalar / hirarki – adanya garis wewenang dan perintah yang jelas.

10.  Order/ Kemantapan para karyawan dalam pekerjaannya – sumber daya organisasi termasuk sumber daya manusianya, harus ada pada waktu dan tempat yang tepat. Penempatan orang-orang harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dikerjakan.

11.  Keadilan/ kesamaan – Perlakuan dalam organisasi harus sama dan tanpa ada diskriminasi.

12.  Stabilitas Staf dalam Organisasi – perlu adanya kestabilan dalam menjalankan organisasi, tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat.

13.  Inisiatif – setiap pekerja harus diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan diberi kebebasan untuk merencanakan dan menjalankan tugasnya secara kreatif walaupun memungkinkan terjadinya kesalahan.

14.  Esprit de Corps (semangat korps) – Prinsip ini menekankan bahwa pada dasarnya kesatuan adalah sebuah kekuatan. Pelaksanaan operasional organisasi perlu memiliki kebanggaan, kesetiaan, dan rasa memiliki dari para anggota yang tercermin pada semangat korps/ kebersamaan.

 

Selanjutnya berdasarkan sumber referensi yang lain, lebih rinci mengenai pengembang manajemen aliran klasik serta kontribusi yang mereka berikan terhadap manajemen dapat dilihat pada tabel berikut ini:

 

 

No

Pengembang

Tahun

Kontribusi Terhadap Manajemen

1

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.

Robert Owen

 

 

 

 

 

 

 

 

Charles Babbage

 

 

 

 

 

Frederick Winslow Taylor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Henry Laurance Gantt

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Frank B. Gilberth

&

Lilian M. Gilberth

1771 - 1858

 

 

 

 

 

 

 

 

1792 - 1871

 

 

 

 

 

1856 - 1915

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1861 - 1919

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1868 - 1942

 

1978 - 1972

a)        Membangun perumahan bagi pekerja.

b)        Menyediakan kebutuhan rumah tangga bagi pekerja.

c)        Menetapkan mekanisme kerja spesifik.

d)       Penilaian harian terhadap para pekerja secara terbuka.

 

Prinsip pembagian kerja sehingga setiap pekerjaan harus dipecahkan dan setiap pekerja dididik dengan keterampilan spesifik untuk menyelesaikan pekerjaannya.

 

Penemu manajemen ilmiah dengan prinsip.

a)        Pengembangan manajemen ilmiah sebenarnya, misalnya metode terbaik untuk menyelesaikan setiap pekerjaan.

b)        Seleksi secara ilmiah terhadap para pekerja sehingga pekerja diberi tugas dan tanggung jawab yang cocok.

c)        Kerja sama yang bersahabat antara pihak manajemen dan pekerja.

 

Meninggalkan sistem tarif upah dan diferensial dan menggantinya dengan motifasi kerja :

1.        Setiap pekerja yang menyelesaikan pekerjaannya diberi bonus $ 50 Sen.

2.        Mandor akan menerima bonus apabila seluruh pekerjaan mencapai standar.

Penggambaran jadwal produksi dengan Gantt Chart.

 

Studi gerak dan waktu meningkatkan semangat kerja. Keduanya mengembangkan rencana 3 kedudukan, yaitu :

a.         Mengerjakan pekerjaan saat ini.

b.        Mempersiapkan diri untuk jabatan yang lebih tinggi.

c.         Melatih penggantinya dalam waktu yang bersamaan.

 

 

 

 

 

5.      Fungsi Manajemen Klasik

Secara tradisional manajemen klasik memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai berikut:

a.    Merencanakan (planning) adalah menentukan sasaran organisasi dan sarana untuk pencapaian tujuan.

b.    Mengorganisasikan (organizing) adalah menetapkan dimana keputusan akan dibuat, siapa yang akan melaksanakan tugas dan pekerjaan, serta siapa yang akan bekerja untuk siapa.

c.    Memimpin (leading) adalah memberi insparasi dan motivasi kepada karyawan untuk berusaha keras mencapai sasaran organisasi.

d.   Mengendalikan (controlling) adalah mengawasi kemajuan pencapaian sasaran dan mengambil tindakan korelasi bilamana dibutuhkan.

 

6.      Karakteristik Manajemen Klasik

Dari pemaparan di atas dan dari suatu sumber, terdapat beberapa karakteristik dari teori manajemen klasik, antara lain yaitu:

a.    Pengembangan manajemen dilakukan oleh teoritis.

b.    Investasi terbesar adalah karyawan.

c.    Tenaga kerja diberi pelatihan keterampilan sesuai operasi pabrik.

d.   Karyawan bertanggungjawab atas pekerjaan tertentu yang berulang.

e.    Adanya skema pembagian keuntungan.


DAFTAR PUSTAKA

 

Fatah, Nanang. 2008. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

 

Siswanto, H.B. 2007. Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Sugiyo. 2014. Manajemen Bimbingan dan  Konseling di Sekolah. Semarang: Widya Karya.

 

Syamsu Yusuf, LN dan A. Juntika Nurihsan. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Kerjasama PPs UPI dan PT Remaja Rosdakarya.

Suherman, Uman. Manajemen Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Mandani Production.

 

Mulyono, MA. 2009. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

 

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_manajemen_umum/Bab_2.pdf diakses pada tanggal 17 September 2015.